Sebuah kisah pendakian : Jasad Mallory Ditemukan

Sebuah kisah pendakian : Jasad Mallory Ditemukan

Setelah 75 Tahun Hilang

Jasad Mallory Ditemukan

 

“Halo, disini Eric Simonson memanggil dari advance base Mount Everest diketinggian 6.450 meter. Hari ini, minggu sore tanggal 2 mei, saya akan mengabarkan sebuah berita besar. Ekspedisi Pencarian Mallory dan Irvine 1999 berhasil menemukan jasad George Mallory diketinggian 8.320 meter.”

            Berita radio dari Somonson (43), pendaki professional asal AS itu sedikit menguak misteri hilangnya duet Inggris, Mallory dan Andrew Irvine, di Mount Everest. Pasangan pendaki itu merupakan pelopor pendakian modern, untuk menjejakkan kaki di atap dunia berketinggian 8.848 meter di Pegunungan Himalaya.

            Pada 8 Juni 1924, Mallory dan Irvine menyiapkan sebuah ekspedisi ke Everest lewat jalur Utara. Dua tahun sebelumnya, kedua pendaki ini gagal mencapai puncak Everest pada kesempatan pertama. Tapi, ekspedisi kedua ini berakhir tanpa kabar pasti. Mallory dan Irvine tak pernah kembali selama 75 tahun. Hilang dan mati itu pasti, tapi kesusksesan ekspedisi duet pendaki ini tetap jadi misteri.

            Kenapa penemuan jasad Mallory menjadu begitu penting? Sebab jika barang-barang lain seperti kamera ditemukan, maka akan bisa dibuktikan siapakah yang pertama kali menaklukkan atap dunia, Sir Edmund Hillary-Tenzing Norgay (1953) ataukah Mallory-Irvine.

            “terima kasih atas usaha kalian menemukan jasad Mallory disana. Kembalilah dari misi mulia ini dengan selamat,” kata Clare Milikan, anak sulung Mallory, dalam surat yang dikirimkan kepada tim pemcari Mallory lewat situs Mountainzone.

Berkilau-kilau

            Jenasah Mallory ditemukan oleh salah seorang anggota tim, Conrad Anker. Jasad beku itu tergeletak disekitar wilayah  kamp VI, yang didirikan oleh tim ekspedisi Cina tahun 1975.

            “Kami berlima mencapai kamp VI tanggal 2 Mei sekitar pukul 10.00. Kami langsung menyebar untuk meyelidiki lokasi sekitar kamp. Setelah 15 menit mencoba mendaki, saya berhenti sejenak karena pandangan tetumbuk pada sebuah tenda tua yang sudah rubuh. Sambil melihat-lihat tenda itu, saya menyaksikan suatu benda putih berkilau-kilau disebelah Barat,” tutur Anker, seperti dikutip The Mountainzone.

            “Benda itu lebih putih daripada salju. Dan setelah mengamati beberapa menit, saya yakin kalau itu adalah jasad dari masa lalu. Saya mengontak rekan-rekan agar dating memeriksanya lebih teliti,” kata Angker.

            “Jasad itu ternyata adalah Mallory. Benar, saya tidak membual. Wajahnya tampak sangat tenang. Sebab itu saya sama sekali tidak ingin mengganggu ketenangan abadi Mallory,” tambahnya.

            Salah seorang anggota ekspedisi, Dave Hahn, menceritakan kalau sebelumnya mereka tidak yakin bahwa jasad yang ditemukan Anker adalah Mallory. Mereka menduga itu adalah Irvine.

            “Namun setelah lama menyelididki, kami pastikan dia memang Mallory. Kami hanya merapikan jasad itu, memberikan penghormatan, setelah itu kembali ke kamp V. Penyelidikan memang tidak bisa tuntas, sebab sangat sulit untuk melakukan penelitian pada ketinggian diatas 8.000 meter udara tipis, serta angin yang berhembus kencang,: ungkap Hahn.

            Lima pendaki, Anker, Hahn, Tap Richards, Jane Norton, dan Andy Plotz, memang tidak berhasil mengungkap secara utuh misteri pendakian Mallory-Irvine. Jasad Irvine belum ditemukan, hasil akhir ekspedisi 75 tahun lalu itu tetap berselimut kabut pekat.

            Because it’s there, karena gunung itu ada disana. Itulah jawaban Mallory tentang alasannya menggilai gunung. Dan Mallory pun akan tetap disana, dalam pelukan abadi Chomolungma, ibunda dewi bumi, sebutan orang Nepal untuk Everest.   

 

 

  • Donny Winardi
  • Majalah Bola, Mei 1999

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

head>