Melati Suci Masih Tampak Seperti Dulu

Melati Suci Masih Tampak Seperti Dulu

Ku coba mengigat lagi kapan terakhir kali menginjakkan kaki di gunung  yang dulu begitu akrab, yaa….begitu sangat akrab dalam menemani hari-hari yang dulu pernah menghantui kehidupanku.

Satu…dua…
kucoba meresapi kembali gairah yang mengalir dalam aliran darah ini. Terasa sentuhan dan belaian itu tetap mesra seperti dulu, menghanyutkanku pada kenangan lalu.

Juga seperti waktu itu, kumulai langkahku bersama kawan-kawan baruku, walau ada beberapa yang sudah begitu akrab J. Seperti biasa sang alam begitu cepat mengakrabkan kami dalam satu langkah pasti menuju sebuah bentuk persahabatan yang tak pernah sirna.

 Tawa canda itu tak asing bagiku, seperti halnya dengan sesisi jenggala yang kerap kuhampiri. Selangkah demi selangkah jejak itu meninggalkan sebuah senyum kegembiraan yang terbawa dalam sejuta mimpi.

Satu persatu wajah-wajah itu mengisi paragrap-paragrap petualangan yang ikut memenuhi ‘Sepenggal Perjalanan’ ini. Banyak nuansa warna tergores menyemarakan garis-garis kehidupan yang mesti dilalui.

Seperti yang selalu kuharapkan, ada banyak buku yang harus kupahami dan kubaca untuk kembali mengingat pelajaran yang dulu sering kau berikan padaku. Untuk mengajariku dan mengenalkanku pada arti sebuah kehidupan yang hakiki. Walau mungkin banyak yang sudah terlupakan, namun masih terasa getaran-getaran nyata dalam diri.

Satu persatu kesempurnaan yang kau tampakkan membuat hati ini terpesona, seperti layaknya harum melati yang menyebarkan harus dilembah kesunyian “Surya Kencana”.

 Harum mewangi ‘Melati Suci masih tampak seperti dulu’

 

“HIJJAU, sepenggal perjalanan…”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

head>