1 (Satu) Dekade

  “Sudah cukup jauh, perjalanan ini
            lewati duka lewati tawa…lewati s’gala persoalan 
            kucoba berkaca pada jejak yang ada 
            ternyata aku sudah tertinggal, bahkan jauh tertinggal…”

     Penggalan lagu diatas sepertinya mencerminkan perjalanan hidup yang selama ini terus ku-lalui. Sewindu sudah tak terasa waktu berlalu, banyak hal yang telah terjadi yang mengisi hari-hari perjalanan-ku. Entah berapa banyak waktu ku-habiskan hanya untuk sebuah pencarian. Hari-hari yang penuh dengan petualangan dan tantangan.

                         disini…dibatas pelangi 
                        kulangkahkan kaki menapak kesendirian yang tercipta 
                        menelusuri lorong-lorong waktu ‘tuk mencari jati diri  
                        hari ini… 
                        ingin kupersembahkan semua yang pernah kulalui bersama sahabat sejatiku 
                       yang telah berbagi perasaan saatku tak mampu menghadapinya 

                       ya, Allah… 
                      kuucapkan rasa syukur 

                      yang tak pernah sebelumnya terbersit di hati ini

  Satu-persatu datang silih beganti, peristiwa-peristiwa yang menghiasi perjalanan ini, yang tertoreh direlung hati ini. Teman, sahabat berlalu memberikan nuansa indah disetiap pengelanaan-ku. Mereka memberikan cinta, canda, tawa, bahkan duka serta kepedihan yang terbawa. Itu semua kombinasi yang sempurna dalam perjalanan hidup ini.

Hutan…
Gunung…
hamparan hijau yang menyejukkan hati
terimakasih…
yang telah memberiku pengalaman yang tak ternilai
dalam pencarian jati diri ini
sehingga begitu membekas dan akan terus terbawa
dalam mengarungi kehidupan ini
menyadarkanku …
memberiku pelajaran mengenai arti kehidupan
dengan kearif’an yang Maha Pencipta
Kau bukakan matahati-ku
agar menjadi lebih bijaksana
dalam pergaulan hidup ini 
  

Sang Alam pun tak henti-hentinya memberi-ku harta, harta yang tak bisa ditandingi emas-permata sekalipun. Betapa Sang Alam begitu berbelas kasih pada-ku untuk membimbing dan menuntun-ku melewati masa-masa sulit. Memberi-ku arti cinta…memberiku arti kasih…memberiku arti peduli. Semua terekam dalam pita sanubari-ku.

Bila akhirnya semak belukar menutup jalan setapak 
dan menghentikan jalan kita untuk kembali
 pulang
Dan bila akhirnya… nafas kita berhenti juga
                                                   
disini…                                                                
terkubur bersama ranting dan daun kering yang dingin                                            
apakah itu semua akan tinggal kenangan sia-sia?

Semoga saja tidak !

            Tidak bila mayat-mayat kita kelak mampu menitip pesan
            bahwa gunung bukanlah tempat bermain-main,
            yang didaki tidak dengan persiapan,
            yang didaki hanya dengan modal semangat, 
            hendak menaklukkan alam

  Saat ini tak banyak keingin dan harapan yang ingin dilakukan, hanya sebuah kerinduan akan belaian alam yang menggelitik untuk selalu dekat denganya. Panggilan alam tak akan selalu berbisik dan bercerita tentang keIndahan-Nya…tentang keAgungan-Nya…tentang Kasih dan Cinta-Nya. Oh…betapa indah dan nyata apa yang telah Dia berikan untuk-ku.

 
 HIJJAU 1993 – 2003

Fenomena Upacara 17 Agustus di Puncak Gunung

Mengikuti jejak atau napak tilas perjuangan dan semangat yang dikobarkan para pendahulu kita sungguh sebuah perbuatan yang sangat terpuji, dimana kita bisa mengambil pelajaran yang begitu berharga akan artinya sebuah kecintaan terhadap tanah air, serta mencoba menghayati nilai-nilai luhur yang dikandungnya. Setiap tahunnya banyak dilakukan pesta rakyat yang sudah menjadi sebuah adat disetiap negara, hal yang wajar.

Tak ketinggalan pula kaum pendaki atau mereka yang menamakan Pecinta Alam pun tak mau kalah untuk ikut merayakannya. Berbagai ragam bentuk kegiatan yang dilakukan mereka dengan satu tujuan memperingati Hari Kemerdekaan Ibu Pertiwi tercinta. Upacara 17 Agustus di ‘Puncak Gunung’ salah satu fenomena yang paling banyak dilakukan oleh para pendaki (pecinta alam) saat ini.

Beratus-ratus pendaki, bahkan beribu-ribu orang mencoba untuk mengikuti upacara tersebut. Tak ayal lagi gunung yang menjadi tempat kesunyian bernaung, tempat para penghuninya bebas menikmati hidup…menjadi hiruk-pikuk layaknya mall-mall metropolis yang penuh dengan gemerlapnya dunia. Begitu senangnya hati kita disaat seperti itu, semua kegembiraan terluapkan tanpa batas. Seolah-olah seisi rimba raya ikut menikmati apa yang kita rasakan saat itu.

Tapi, benarkah seperti itu ?!?!?!
Pernah kah kita merenung dan memikirkan hal itu, yang dulu kita anggap hal sepele bahkan mungkin tak terbersit dihati kita (karena ke-egoisan ?!?!?!). Dalam sebuah pendakian normal saja, alam cukup repot untuk mengembalikan habitatnya yang kita rusak. Bayangkan bila ratusan bahkan ribuan pendaki dengan berbagai macam sifat dan karakteristik yang berbeda, bahkan terselip sifat merusak (vandalisme). Berpuluh-puluh ton kita cemari alam ini dengan sampah, beribu-ribu liter zat kimia kita tabur disana, berapa banyak racun yang telah kita semai di dalamnya?. Bisakah alam ini menjaga amanat yang dipikulnya? Amanat untuk melayani kehidupan manusia.. Mampu kah mereka melakukannya?!?!?!. Salahkah bila alam menjadi murka, menjerit akibat ulah manusia yang ingin memuaskan nafsu tak terbatasnya.

Oh, betapa malangnya nasib-mu, Ibu Pertiwi
Kau berikan…Keindahan………….
Kau berikan…Kedamaian …………
Namun semua kebaikan-mu terbalas sudah dengan menguras air mata-mu

Kawan…
Apa yang telah kita perbuat selama ini belumlah terlambat. Tak ada istilah terlambat kecuali kita membiarkan hal ini terus berlanjut. Tidak ada larangan untuk mendaki gunung, tidak ada anjuran untuk berhenti berpetualang, namun tak ada salahnya bila kita mulai memperbaiki perilaku kita terhadap alam ini mencoba untuk lebih perhatian dan lebih mencintainya seperti kita mencintai diri sendiri

antara Cinta, Kewajiban dan sebuah Tanggung jawab

antara Cinta, Kewajiban dan sebuah Tanggung jawab

Lama terasa udara yang selalu dirindukan itu dapat kuhirup kembali. Tak seperti dulu yang begitu dekat dan menjadi bagian dari kegiatan rutin yang dijalani. Berseda gurau dan bercengkrama dengan alam menjadi kenikmatan yang tak terkirakan.

Ahhh…terasa kenangan itu menyeruak hebat diantara gemuruh aliran darah dalam dada, bergolak membangkitkan semangat yang tak pernah surut. Tak ada yang berubah dan tak ada rasa menyesal untuk tetap merengkuh keyakinan yang terpatri.

Waktu boleh berganti, namun rasa cinta dan kangen sepertinya tak kan tergantikan. Perubahan adalah hal yang pasti dan tak bisa dipungkiri, begitupun dengan diri ini. Saat ini ku tak lagi sendiri mengelana mencari sebuah pertanyaan yang selalu menghantui. Kali ini aku tak seorang diri merasakan kenikmatan akan bisik sebuah kebajikan dari belukar yang sering kulewati.

Tak terasa, saat ini telah hadir pendamping setiaku dalam mengarungi hidup ini. Dan…seorang bidadari kecilku yang cantik membuat rasa itu semakin kencang berpacu. Kapan keinginan yang terpendam ini bisa terjadi?

Oh, betapa indah bayang-bayang yang menari-nari didepan mata ini. Kulihat keceriaan sebuah kesempurnaan yang mengajarkan sebuah kecintaan. Ditengah rimbunnya semak belukar, dikelilingi rapatnya tonggak raksasa yang saling berhimpitan memenuhi seisi jenggala.

Oh…nafas murni yang diberikan alam mungkin akan membawa sebuah kuncup kehidupan untuk sang tercinta. Betapa bahagianya bila saat-saat itu bisa kulalui bersama orang terkasih.

Detik demi detik saat-saat itu aku persiapkan. Kucoba untuk memulainya dalam canda dan tawa. Ingin kuajari dia untuk bisa merasakan apa yang selama ini menjadi bagian hidupku.

Istriku…ijinkan aku juga alam ini untuk mengajarkan anak kita ini. Menyerap sebuah makna dan hakekat sebuah kehidupan. Yang dulu banyak keterima disaat kesendirianku bersamanya.

Anaku…tak mesti kau ikuti jejak langkahku, tapi mencoba mencintai cintaan-Nya bukanlah sebuah kejahatan. Kelak kau akan menyadari dan mengerti apa yang ingin kusampaikan dari sebuah perjalanan yang selama ini aku lalui.

Tak ada satu pul hal yang akan sia-sia dari setiap jejak langkah kaki yang kita ayunkan, selama kesadaran dan keinginan untuk merengkuh inti sari kehidupan ini.

Semoga kita bisa bersama menikmati keindahan alam dan keagungan dari hasil karya Yang Maha Sempurna, entah esok atau lusa saat itu akan kita nikmati bersama.

#pi Kendal

Bismillah….assalamu’alaikum, salam sejahtera.

Alhamdulillah satu lagi hadir korwil dari Provinsi Jawa Tengan, tepatnya di Kota Kendal.

#pi Kendal

Yang di koordinir (koordinator wilayah / korwil) oleh :

  • Rizky  0857 2597 8617
  • Fandi 089660781465

Semoga sebaran persaudaraan bisa merengkuh pelosok-pelosok Ibu Pertiwi dan memberikan kebaikan, aamiin.

 

KABUPATEN KENDAL adalah sebuah kabupaten di ProvinsiJawa Tengah. Ibu kotanya adalah Kendal dan masuk dalam Wilayah Metropolitan Kedungsapur yang merupakan Wilayah Metropolitan terbesar keempat setelah JabodetabekGerbangkertosusila, dan Bandung Raya. Kabupaten ini berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kota Semarang dan Kabupaten Semarang di timur, Kabupaten Temanggung di selatan, serta Kabupaten Batang di barat. Kendal juga dikenal dengan Kota Santri karena terdapat ribuan Ponpes terutama di Kecamatan Kaliwungu dan juga dikenal dengan Kota Seni dan Budaya.

Nama Kendal diambil dari nama sebuah pohon yakni Pohon Kendal. Pohon itu pada mulanya tidak ada yang tahu namanya tetapi ketika Pakuwojo bersembunyi di pohon itu di dalam pohon itu terang benderang akhirnya pohon itu dinamakan pohon Qondhali yang berarti penerang dan akhirnya daerah tempat pohon itu dinamakan Qondhali karena orang Jawa tidak fasih berbahasa Arab maka jadi Kendal. Pohon yang berdaun rimbun itu sudah dikenal sejak masa Kerajaan Demak pada tahun 1500 – 1546 M yaitu pada masa Pemerintahan Sultan Trenggono. Pada awal pemerintahannya tahun 1521Sultan Trenggono pernah memerintah Sunan Katong untuk memesan Pusaka kepada Pakuwojo.

Peristiwa yang menimbulkan pertentangan dan mengakibatkan kematian itu tercatat dalam Prasasti. Bahkan hingga sekarang makam kedua tokoh dalam sejarah Kendal yang berada di Desa Protomulyo Kecamatan Kaliwungu itu masih dikeramatkan masyarakat secara luas. Menurut kisah, Sunan Katong pernah terpana memandang keindahan dan kerindangan pohon Kendal yang tumbuh di lingkungan sekitar. Sambil menikmati pemandangan pohon Kendal yang tampak “sari” itu, Dia menyebut bahwa di daerah tersebut kelak bakal disebut “Kendalsari”. Pohon besar yang oleh warga masyarakat disebut-sebut berada di pinggir Jalan Pemuda Kendal itu juga dikenal dengan nama Kendal Growong karena batangnya berlubang atau growong.

Dari kisah tersebut diketahui bahwa nama Kendal dipakai untuk menyebutkan suatu wilayah atau daerah setelah Sunan Katong menyebutnya. Kisah penyebutan nama itu didukung oleh berita-berita perjalanan Orang-orang Portugis yang oleh Tom Peres dikatakan bahwa pada abad ke 15 di Pantai Utara Jawa terdapat Pelabuhan terkenal yaitu SemarangTegaldan Kendal. Bahkan oleh Dr. H.J. Graaf dikatakan bahwa pada abad 15 dan 16 sejarah Pesisir Tanah Jawa itu memiliki yang arti sangat penting.

Wisata Alam

Beberapa objek pariwisata lain di Kabupaten Kendal:

  • Pemandian air panas Gonoharjo Nglimutdi lereng Gunung Ungaran
  • Pantai Muara Kencandi Kecamatan Patebon
  • Pantai Ngebumdi Kecamatan Kaliwungu
  • Pantai Sendang Sekucingdi Kecamatan Rowosari.
  • Agrowisata kebun teh Medinidi Kecamatan Limbangan, dimana tampak pemandangan Kota Semarang dari atas di Gunung Ungaran yang berketinggian 2.100 meter
  • Goa Kiskendodi Kecamatan Singorojo; goa ini mempunyai legenda tentang Mahesa Sura dan Lembu Sura serta Sugriwa dan Subali
  • Kolam Renang Boja di Kecamatan Boja. Di tempat ini ada tersedia dua kolam yaitu kolam olympic dan kolam untuk anak anak. Wisata ini .berada di pusat Kecamatan Boja.
  • Agrowisata Sekatul. Terletak di Kecamatan Limbangan, sekitar 30 km ke arah selatan dari Kendal. Terdapat perkebunan buah stroberi dan buah-buahan lainnya, pemancingan, serta taman bermain untuk anak anak.
  • Srendeng Agrowisata. Terletak di Desa Curugsewu, Kecamatan Patean, merupakan wisata Agro berbasis pendidikan terdiri dari Wisata Kebun, Peternakan, Pertanian, Outbound, Mebel dan village tour.
  • Curug Semawur di Desa Blumah Kecamatan Plantungan
  • Curug Penglebur Gongso di Desa Gondang Limbangan
  • Agrowisata Ngebruk Patean Surga Buah Unggul di Sidokumpul Patean
  • Pantai Cahaya/The Sea. Penangkaran Satwa Langka sejenis mamalia air,juga ada Dholpin Therapy pengobatan dengan media lumba-lumba
  • Desa Wisata Cacaban. Terletak di desa Cacaban SingorojoKendal
  • Sekartama Water Land di Weleriwisata air yang mengusung konsep keluarga dilengkapi dengan Foodcourt/pusat makanan dan jajanan.

Admin #pi

Bismillah, assalamu’alaikum

Salam sejahtera.

Tak Kenal, maka tak sayang.

Terima kasih untuk para Mimin yang selama ini telah ikut memberikan rasa semarak dan ceria dalam ikut membangun #pendaki Indonesia. Semoga akan memberikan lebih baik lagi kontribusinya.

Selamat datang untuk Mimin baru, semoga semakin semangat untuk ikut memajukan #pendaki Indonesia.

Mari kita sama-sama memberikan yang terbaik.

TERIMA KASIH KAMI (#pi 2018)

Bismillah, assalamu’alaikum

salam sejahtera

  

Terima kasih kami (admin pusat) ucapkan, atas aktifitas dan kegiatan yang dilakukan teman-teman #pi korwil seluruh Indonesia. Dengan berbagai aktifitas yang begitu semarak dan insyaaAllah didalamnya terdapat banyak kebaikan, pahada dan kebersamaan yang dilalui dengan segenap keikhlasan dan ketulusan hati.

Berbagi bersama, dalam suka dan duka, memberikan yang terbaik yang bisa kita lakukan untuk sebuah persaudaraan dan rasa kemanusiaan yang begitu terpatri.

Hanya Allah lah yang bisa membalas segala kebaikan teman-teman dan semoga di sini, di #pendaki Indonesia menjadi ladang pahala kita untuk menyemai kebaikan dan rasa persaudaraan.

 

“PERSAHABATAN TERJALIN, PERSAUDARAAN TERENGKUH, BERSAMA MENGUKIR CINTA KEPADA ALAM”

Apalah arti sebuah nama???

Apalah arti sebuah nama???

Entahlah….. apa yang ada dibenaknya.

Yang pasti buat hal yang satu ini bagi saya adalah harus memiliki makna atau arti yang baik.

Bukankah nama itu sebuah doa???

Yang akan menjadi pengingat kita untuk berlaku seperti makna nama yang kita pakai. Menjadi penyemangat untuk berbuat yang terbaik, menjadinya sebuah kebanggaan dan sebuah inspirasi dalam menjalaninya.

 

#HIrauJenggalahiJAU

#PersahabatanTerjalinPersaudaraanTerengkuhBersamaMengukirCintaKepadaAlam

SANG PRABU (Smiling Gede 15-16 Nopember 2013)

SANG PRABU (Smiling Gede 15-16 Nopember 2013)

“Akulah sang Prabu
Aku bisa menjadi tujuh
Aku bisa berganti wajah
Salah satu kekuatanku”

Malam itu pukul 21:30 tampak serombongan pendaki mulai bergerak, tua-muda berbaur dengan semangat yang masih membara mereka akan melalui malam yang melelahkan yang menguji kesabaran dan ketabahan.
Disela langkah kaki sayup-sayup terdengar gelak tawa, dan canda yang meramaikan hutan di Gunung Gede.Ya, salah satu obat penawar lelah adalah gurauan positif yang bisa membangkitkan semangat yang kadang berada di titik nol.
Sebuah kebahagiaan pula bila bisa membuat mereka tertawa lepas dan melupakan sejenak rasa pegal dan lelah yang menyengat. 
20 tahun yang lalu tepatnya 22-23 Mei 1993, aku menjadi peserta pendakian pertama ku bersama MAPA GUNADARMA dalam pedakian “Smiling Gede”. Jadi aku pun sedikit banyak bisa merasakan seperti apa yang mereka rasakan saat ini.
Beruntung aku dibantu teman baikku (Epul/Enjang Saepuloh) dan juga adik seperjuanganku di MONTANA (Kemi) yang dengan baik mampu mengawal rombongan ini untuk menuntaskan pendakian ke puncak Gede.
Seperti biasanya aku selalu berada dibelakang para pendaki, cukup menikmati setiap langkah dan pemandangan yang sebenarnya sudah tidak asing lagi. Dengan terus memberikan semangat dan celoteh-celoteh yang membuat mereka tersenyum simpul bahkan tertawa .
Karena selalu berada dibelakang dan menemani mereka yang membutuhkan teman ngobrol dan penyemangat untuk tetap bergerak menuju puncak. Hingga kadang mereka merasa aku selalu berada dibelakangnya memberikan support dan candaan, padahal aku selalu bergerak dinamis melihat kondisi orang per orang untuk memastikan mereka baik-baik saja.
ALHAMDULILLAH…dengan semangat yang pantang surut akhirnya tanah tertinggi di Gunung Gede akhirnya kami gapai, saat itu menunjukan pukul 06:30, setelah salama hampir 9 jam tanpa henti terus mendaki.
————————————————————————————-
Terima kasih saya ucapkan yang pertama dan utama kepada Allah SWT
Kepada Epul dan Kemi yang sangat membantu mengorganisir pendakian ini
Juga kepada Panitia internal PT. Hatfield Indonesia (Pak Adhi, Pak Rubi & Abby)
Serta Pak Ian dan rekan-rekan yang tak bisa disebutkan satu persatu.

*sebuah catatan perjalanan HIJJAU*

Aku & #pendaki Indonesia

Aku & #pendaki Indonesia

Aku & #pi

 

Pertama kali komunitas yang ku masuki adalah #pendaki. Berawal dari sebuah keisengan yang suatu hari membawa banyak perubahan yang berarti. Ketika salah seorang sahabat memperkenalkan ku untuk chat di MIRC di channel #pendaki karena merasa memiliki kegemaran yang sama yaitu mendaki gunung. Lalu berkembang dengan dibuatnya komunitas pendaki di dunia kabel, milist pendaki yahoo groups dan facebook.

( http://groups.yahoo.com/group/pendaki )

(https://www.facebook.com/groups/pendaki/ )

Disinilah banyak hal positif yang aku dapatkan tak hanya seputar kegiatan alam bebas, tapi juga tentang kehidupan. Beragam watak dan sifat dapat kutemui disini dengan  seribu satu masalah yang bisa dijumpai. Semua itu memberikan sebuah hikmah yang memenuhi lembaran kertas kehidupanku.  Banyak sudah yang kualami, tak hanya sebatas hoby yang kudapatkan, sahabat bahkan cinta pernah mengisi perjalanan ini mewarnai hari-hari tanpa batas.

Disana jua mata ini lebih terbuka untuk terus mencari dan mencari sebuah pelajaran hidup yang berharga. Banyak sudah milist pecinta alam seperti Pangrango, Highcamp, Merbabu, Mapala Indonesia, Nature Trekker Indonesia, Jejak Petualang, Indo back Packer, dan portal-portal pendaki kumasuki untuk sekedar singgah dalam pencarian.

#pi Ntade Morowali

#pi Ntade Morowali

Bismillah….assalamu’alaikum.

Alhamdulillah satu lagi hadir korwil di Kota Morowali (Sulawesi Tengah)

Yang di koordinir oleh :

  • Indra Adi 082292900165
  • Ahyan 082292244212

Semoga kiprah #pi semakin diterima diberbagai pelosok Pertiwi, dan lahir tunas-tunas baru, aamiin.

Secara geografis, Kabupaten Morowali terletak di 01o31 12 – 03o46 48 LS dan antara 121o02 24- 123o15 36 BT.

Dalam potensi Wisata, Morowali adalah salah satu daerah Kabupaten di Sulawesi Tengah yang terkenal memiliki banyak Potensi Wisata pulau,pantai dan air terjun, Seperti yang tidak asing lagi terdengar namanya yaitu Pulau Sombori, yang katanya merupakan salah satu potensi wisata pulau yang menjadi tandingan pesona Raja Ampat, Papua. Selain Pulau Sombori ada  25 (dua puluh lima ) lagi atau tempat wisata yang sangat indah dan alami yang banyak mengundang para wisatawan untuk berkunjung seperti nama-nama tempat wisata berikut yang merupakan cagar alam wisata terbaik dari Kabupaten Morowali

head>